Minggu, 06 Januari 2013

TUGAS UJIAN SEMESTER BAGIAN A





Pengaruh Pemberian Sayuran kering terhadap Peningkatan Kadar Hb pada Ibu Hamil di Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo
Kota Padang Tahun 2012
BAB I
PENDAHULUAN
Telah dilakukan pengumpulan data dasar dalam rangka persiapan penelitian di lokasi penelitian. Data-data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden berupa umur, pendidikan, pekerjaan, dan kondisi tempat tinggal. Data utama yang dikumpulkan adalah konsumsi energi, protein dan fe pada sample ibu hamil. Data karakteritik sample dikumpulkan dengan metode wawancara menggunakan daftar pertanyaan. Sedangkan data konsumsi menggunakan metode Semi Quantitative Food Frequency Questionaire(SQ-FFQ). Data yang diperoleh diolah menggunakan Aplikasi Microsoft Excel yang dirancang khusus untuk memudahkan mengolah asupan zat gizi.  Jumlah sample dari penelitian ini direncanakan sebayak 250 ibu hamil yang nantinya akan dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok control dengan jumlah sama banyak. Pemilihan perlakuan dan control dilakukan secara acak sederhana karena keseluruhan subjek penelitian memiliki karakteristik relative sama.
Hasil pengumpulan data dasar menurut karakteristik dapat dilihat pada table 1 di bawah ini.

Tabel 1.1 Penelitian yang Dilihat dari Segi Pendidikan dan Pekerjaan
Dari Segi Pendidikan
Dari Segi Pekerjaan
Kelompok Perlakuan
Kelompok Kontrol
Kelompok Perlakuan
Kelompok Kontrol
67
80
32
48





DIAGRAM PENELITIAN YANG DILIHAT DARI SEGI PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN





Jumlah responden yang berpendidikan rendah (kurang dari SMA untuk kelompok perlakuan dan sebanyak 67 orang sementara untuk kelompok control sebanyak 80 orang, selebihnya berpendidikan tinggi (SMA atau lebih). Dari segi pekerjaan, ibu-ibu sample yang bekerja di luar rumah untuk kelompok perlakuan adalah sebanyak 32 orang sementara untuk kelompok control sebanyak 48 orang, selebihnya adalah hanya sebagai ibu rumah            tangga.
Sementara itu hasil pengolahan data konsumsi zat gizi diperoleh hasil sebagai berikut : Rata-rata konsumsi energi bumil untuk kelompok perlakuan adalah 84% AKG dan kelompok kontrol 76% AKG.  Setelah dikelompokkan menggunakan median data tersebut (secara normative), maka 62 orang bumil atau 50 % nya berada di bawah median sedangkan pada kelompok control 60% sample yang konsumsi energinya kurang dari median.
Konsumsi protein sample kelompok perlakuan cukup tinggi yaitu 60% sample dan hanya 50% responden pada kelompok control yang konsumsinya di atas AKG.
Data konsumsi zat gizi yang ketiga yang diolah adalah konsumsi Fe, dimana konsumsi Fe sample rata-ratanya sangat rendah. Pada kelompok perlakuah hanya 30 orang yang konsumsi Fe nya memenuhi kebutuhan dan pada kelompok  control hanya 25 orang yang mencukupi  kebutuhan.
Tabel 1.2 hasil pengolahan data konsumsi zat       gizi
Konsumsi energi
Konsumsi protein
Konsumsi Fe
Kelompok Perlakuan (%)
Kelompok Kontrol (%)
Kelompok Perlakuan (%)
Kelompok Kontrol (%)
Kelompok Perlakuan
Kelompok Kontrol
84
76
60
50
30
25
DIAGRAM HASIL PENGOLAHAN DATA KONSUMSI ZAT GIZI





Setelah dilakukan pendataan awal ini, selanjutnya para ibu hamil akan diberikan makanan yang dibuat dengan mengeringkan sayuran dengan metode tertentu. Perlakuan akan berlangsung Selama 1 bulan. Setiap seminggu sekali akan dilakukan pengukuran kadar hemoglobin dalam darah baik pada kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol.
Pada kesempatan ini Peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada Lembaga Penyandang dana atas partisipasinya dalam membiayai penelitian ini. Semoga penelitian ini akan berjalan lancar dan memberi manfaat bagi program penanggulangan anemia gizi pada ibu hamil di daerah ini dan di Indonesia umumnya.
Terima kasih
  Elgi Triani



TUGAS UJIAN SEMESTER I

Interaksi Yodium dengan Zat gizi lain
Pendahuluan
Menurut Golden (1992), yodium termasuk dalam klasifikasi/kategori nutrient type I (pertama), bersama sama dengan zat gizi lain seperti besi, selenium, calcium, thiamine dll. Type I ini mempunyai ciri yang apabila kekurangan maka gangguan pertumbuhan bukan merupakan tanda yang pertama melainkan timbul setelah tahap akhir dari kekurangan  zat gizi tersebut. Tanda yang spesifik lah yang pertama akan timbul. Dalam hal kekurangan yodium, dapat menyebabkan gangguan akibat kekurangan yodium yang sering disebut Iodine Deficiency Disorder (IDD). Dalam type II, pertumbuhan akan terganggu terlebih dahulu, tetapi memberikan nilai penilaian biokimia cairan tubuh yang normal. Nutrient yang termasuk ini adalah potasium, natrium, zinc dll.
IDD adalah gangguan yang merugikan kesehatan sebagai akibat dari kekurangan yodium, yang kita kenal juga dengan singkatan GAKY. Kekurangan yodium pada tanah menyebabkan masyarakat yang hidup dan bertempat tinggal di daerah tersebut menjadi masyarakat yang rawan terhadap IDD. Yang paling ditakutkan dari kekurangan yodium ini adalah meningkatnya kematian bayi beberapa saat setelah dilahirkan dan perkembangan otak yang terhambat (neonatal hypotyroidsm). Faktor yang berperan dalam kejadian IDD diantaranya adalah adanya hubungan idoium dengan zat lain misalnya thyosianat dan selenium (Thaha dkk, 2001) Tulisan dibawah ini akan membahas lebih lanjut hubungan tersebut.
Ketersediaan selenium yang kurang pada tanah diduga juga mengandung rendah yodium pada tanah yang sama. Untuk sementara interaksi antara yodium dan selenium dalam proses penyerapan belum ada. Kalaupun ada interkasi ini sangat kompleks dan terkait dengan fungsi fungsi selenium dalam selenoprotein. Pada binatang percobaan ditemukan bahwa kurang selenium meningkatkan kadar T3 di jantung, sehingga dapat menimbulkan peningkatan  denyut jantung dan palpasi. Selenoprotein yang juga terlibat dalam interaksi metabolisme yodium ialah iodotyronine deiodinase  yang berfingsi merubah  thyroxine (T4) menjadi bentuk aktif dari hormon thyroid triiodothyronine (T3) (Satoto, 2001).. Enzym tersebut merupakan selenium-dependent enzymes selain merupakan katalisator utama dalam perubahan thyroxin (T4) menjadi triiodotyronine (T3) juga merupakan katalisator yang merubah dari T3 menjadi T2 untuk mempertahankan level T3 (www.orst.edu/depth/lpi/infocentre/minerals/iodine).
Selain itu, salah satu contoh dari selenoprotein yang berhunbungan dengan metabolisme yodium adalah glutathione peroxidase, berfungsi sebagai antioksidan utama dalam tubuh manusia dan binatang (Satoto, 2001). Dengan adanya gambaran diatas, jelas bahwa akibat dari kekurangan selenium asupan T3 dalam sel tubuh juga menurun.
Tiosianat dikenal sebagai zat goitrogenik yaitu zat yang dapat menghambat transport aktif yodium dalam kelenjar tiroid dan yang paling potential dari zat goitrogenik yang lain. Menurut  Bourdoux (1993) dalam Thaha (2001), thyocianat adalah komponen yang utama pada kelompok zat goitrogenik yang dapat mewakili asupan kelompok goitrogenik melalui makanan. Delanggu dalam Thaha (2001) melaporkan bahwa disuatu populasi bila perbandingan antara eksresi yodium dan tiosianat dalam urin (ug/g) kurang dari 3, maka daerah tempat populasi itu berada mempunyai resiko yang potensial untuk terjadinya gondok endemik. Makin kecil perbandingan antara eksresi yodium dan thyiosinat dalam urin maka semakin tinggi tingkat endemisitasnya. Namun demikian, menurut Larsen dan Ingbar dalam Thaha (2001), hambatan oleh pengaruh tiosinat hanya efektif bila konsentrasi yodium plasma normal atau rendah.
Penelitian di Pulau Seram Barat, Seram Utara dan pulau Banda menunjukkan adanya perbedaan ekresi thyocianat yang bermakna antara daerah endemik GAKY dan daerah non-endemik GAKY yang mana kandungan thyosianat tinggi pada daerah kontrol dibandingkan daerah kasus. Hal ini bertentangan dengan dugaan bahwa kandungan thiosinat yang tinggi akan dijumpai pada daerah gondok endemik. Data dari P. Buru menujukkan nilai eksresi tiosianat yang paling tinggi dibanding dengan tiga daerah lain sehingga menyebabkan tingginya nilai tiosinanat di urin pada kelompok kontrol. Akan tetapi rasio eksresi yodium dan eksresi tiosinat pada urin daerah yang endemik menunjukkan lebih kecil dari pada daerah yang non endemik (Thaha, 2001) yang menandakan bahwa ratio yang semakin kecil menghasilkan resiko yang semakin besar terhadap gondok endemik.
C. Besi
Besi adalah mineral yang paling banyak dipelajari dan diketahui oleh para ahli gizi dan kedokteran di dunia. Penemuan terakhir membuktikan bahwa kekurangan besi dapat menyebabkan terganggunya metabolisme tiroid dalam tubuh manusia. Penelitian yang dilakukan oleh Zimmermann dkk (2000) yang membagi kelompok anak anak yang menderita kekurangan yodium menjadi dua, yaitu anak yang menderita anak yang kekurangan iodine saja dan anak yang menderita kekurangan iodine dan besi. Pada kelompok pertama dan kedua, semua anak diberi 200 mg oral iodine dalam minyak. TSH (thyroid Stimulation Hormon, IU (iodine concentration), T4, dan volume kelenjar thyroid diambil pada awal dan minggu ke 1,5,10, 15 dan 30 minggu sesudah pemebrian. Sesudah 30 minggu pemberian iodine, bagi kelompok yang anemia karena kekurangan besi diberikan tablet besi (ferrous sulphate) 60 mg secara oral 4 kali perminggu selama 12 minggu. Hasilnya menunjukkan bahwa pada minggu ke 30 setelah pemberian iodine kedua kelompok, terjadi penurunan volume rata-rata tiroid menurun dibandingkan dengan awal sebelum dilakukan pemberian iodine, masing masing 45.1% dan 21.8 % (p kecil 0.01).  Pada kelompok yang ke dua, penurunan volume tiroid lebih menurun bila dibandingkan dengan baseline, yaitu menjadi 34.8% pada minggu ke 50 dan 38.4 % pada minggu ke 65.  Hal ini menunjukkan bahwa suplementasi besi dapat meningkatkan kemampuan iodone dalam minyak pada anak anak yang kekurangan yodium. (Zimmermann, M et al, 2000)
Interaksi antara yodium dengan mineral and vitamin lain perlu diteliti lebih lanjut, baik secara laboratorium dengan menggunakan hewan percobaan maupun di lapangan terhadap manusia. Penelitian yang melkihat inetraksi secara langsung antara yodium dengan vitamin A pernah dilakukan namun perlu konfirmasi lebih lanjut. Penelitian oleh Van Stuijvenberg dkk, (1999) misalnya yang mengambil 115 anak di Afrika Selatan usia 6-11 tahun yang diberi biskuit selama 43 minggu sampai lebih dari 12 bulan dibandingkan dengan control. Biskuit mengandung besi, yodium, and betha carotene sedangkan control adalah biskuit yang tidak difortifikasi. Pada akhir intervensi, terlihat pada tidak ada perbedaan perubahan dalam pengecilan kelenjar tiroid anak anak secara signifikan, Akan tetapi terjadi penurunan jumlah anak anak yang mempunyai eksresi yodium yang rendah (100 ug/L) dari semula berjumlah 97.5% menjadi tinggal 5.4%. Peningkatan eksresi urin tersebut sangat signifikan  (p kecil 0.0001). (van Stuijvenberg dkk, 1999).


Daftar Pustaka

Golden MHN. Specific deficiency versus growth failure: Type I and type II nutritients. SCN News 1992;No. 12:10-14.
Satoto. Seleneium dan Kurang Iodium dalam Kumpulan Naskah Pertemuan Ilmiah Nasional Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) 2001 editor Djokomoeljanto, dkk. Semarang, Badan penerbit Universitas Diponegoro. 2001
ICCIDD, UNICEF, WHO. Assessment of Iodine Deficiency Disorders and Monitoring their Elimination. A guide for Programme managers. 2nd Ed. Geneva, 2002.
Thaha, Razak; Dachlan, Djunaidi M; Jafar, Nurhaedar, Jafar. Analisis faktor resiko “coastal goiter” dalam Kumpulan Naskah Pertemuan Ilmiah Nasional Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) 2001 editor Djokomoeljanto, dkk. Semarang, Badan penerbit Universitas Diponegoro. 2001
Van Stuijvenberg, M Elizabeth et al. Effect of iron-, iodine-, and b carotene-fortified biscuits on the micronutrient status of primary school children: a randomized controlled trial. Am  J Clin Nutr 1999; 69: 497-503
Zimmermann M, et al. Iron supplementation in goitrous, iron-deficient children improves their response to oral iodized oil. Eur J Endocrinol 2000; 142(3):217-22

FILE TERKAIT

klasifikasi enzim.pdf
yodium.pdf
makalah iodium.pdf
anemia akibat defisiensi zat besi.pdf
fungsi dan kelainan kelenjar.pdf.
Enzim ppt UPI.pdf.
fisiologi dan gangguan keseimbangan kalsium dan kalium
hubungan kandungan yodium dalam garam.pdf
cairan tubuh elektrolit dan mineral.pdf
PPTILMUGIZI-MINERAL.pdf.

 tulisan ini juga dapat dibaca pada blog saya yang lain (klik).